menu

Thursday, 9 July 2015

PESAN BAPAK UNTUK ANAKNYA DI FACEBOOK


(bahan renungan)

Seorang pemuda duduk di hadapan laptopnya.
Login facebook. Pertama kali yang dicek adalah
inbox.
Hari ini dia melihat sesuatu yang tidak pernah dia
pedulikan selama ini. Ada 2 dua pesan yang selama
ini ia abaikan. Pesan pertama, spam. Pesan
kedua…..dia membukanya.
Ternyata ada sebuah pesan beberapa bulan yang
lalu.
Diapun mulai membaca isinya:
“Assalamu’alaikum. Ini kali pertama Bapak mencoba
menggunakan facebook. Bapak mencoba
menambah kamu sebagai teman sekalipun Bapak
tidak terlalu paham dengan itu. Lalu bapak
mencoba mengirim pesan ini kepadamu. Maaf,
Bapak tidak pandai mengetik. Ini pun kawan Bapak
yang mengajarkan.
Bapak hanya sekedar ingin mengenang. Bacalah !
Saat kamu kecil dulu, Bapak masih ingat pertama
kali kamu bisa ngomong. Kamu asyik memanggil :
Bapak, Bapak, Bapak. Bapak Bahagia sekali rasanya
anak lelaki Bapak sudah bisa me-manggil2 Bapak,
sudah bisa me-manggil2 Ibunya”.
Bapak sangat senang bisa berbicara dengan kamu
walaupun kamu mungkin tidak ingat dan tidak
paham apa yang Bapak ucapkan ketika umurmu 4
atau 5 tahun. Tapi, percayalah. Bapak dan Ibumu
bicara dengan kamu sangat banyak sekali. Kamulah
penghibur kami setiap saat.walaupun hanya dengan
mendengar gelak tawamu.
Saat kamu masuk SD, bapak masih ingat kamu
selalu bercerita dengan Bapak ketika membonceng
motor tentang apapun yang kamu lihat di kiri
kananmu dalam perjalanan.
Ayah mana yang tidak gembira melihat anaknya
telah mengetahui banyak hal di luar rumahnya.
Bapak jadi makin bersemangat bekerja keras
mencari uang untuk biaya kamu ke sekolah. Sebab
kamu lucu sekali. Menyenangkan. Bapak sangat
mengiginkan kamu menjadi anak yang pandai dan
taat beribadah.
Masih ingat jugakah kamu, saat pertama kali kamu
punya HP? Diam2 waktu itu Bapak menabung
karena kasihan melihatmu belum punya HP
sementara kawan2mu sudah memiliki.
Ketika kamu masuk SMP kamu sudah mulai punya
banyak kawan-kawan baru. Ketika pulang dari
sekolah kamu langsung masuk kamar. Mungkin
kamu lelah setelah mengayuh sepeda, begitu pikir
Bapak. Kamu keluar kamar hanya pada waktu
makan saja setelah itu masuk lagi, dan keluarnya
lagi ketika akan pergi bersama kawan-kawanmu.
Kamu sudah mulai jarang bercerita dengan Bapak.
Tahu2 kamu sudah mulai melanjutkan ke jenjang
sekolah yang lebih tinggi lagi. Kamu mencari kami
saat perlu2 saja serta membiarkan kami saat
kamu tidak perlu.
Ketika mulai kuliah di luar kotapun sikap kamu
sama saja dengan sebelumnya. Jarang
menghubungi kami kecuali disaat mendapatkan
kesulitan. Sewaktu pulang liburanpun kamu sibuk
dengan HP kamu, dengan laptop kamu, dengan
internet kamu, dengan dunia kamu.
Bapak bertanya-tanya sendiri dalam hati. Adakah
kawan2mu itu lebih penting dari Bapak dan Ibumu?
Adakah Bapak dan Ibumu ini cuma diperlukan saat
nanti kamu mau nikah saja sebagai pemberi restu?
Adakah kami ibarat tabungan kamu saja?
Kamu semakin jarang berbicara dengan Bapak lagi.
Kalau pun bicara, dengan jari-jemari saja lewat
sms. Berjumpa tapi tak berkata-kata. Berbicara
tapi seperti tak bersuara. Bertegur cuma waktu
hari raya. Tanya sepatah kata, dijawab sepatah
kata. Ditegur, kamu buang muka. Dimarahi, malah
menjadi-jadi.
Malam ini, Bapak sebenarnya rindu sekali pada
kamu.
Bukan mau marah atau mengungkit-ungkit masa
lalu. Cuma Bapak sudah merasa terlalu tua. Usia
Bapak sudah diatas 60 an. Kekuatan Bapak tidak
sekuat dulu lagi.
Bapak tidak minta banyak…
Kadang-kadang, Bapak cuma mau kamu berada di
sisi bapak. Berbicara tentang hidup kamu.
Meluapkan apa saja yang terpendam dalam hati
kamu. Menangis pada Bapak. Mengadu pada
Bapak.Bercerita pada Bapak seperti saat kamu kecil
dulu.
Andaipun kamu sudah tidak punya waktu
samasekali berbicara dengan Bapak, jangan sampai
kamu tidak punya waktu berbicara dengan Alloh.
Jangan letakkan cintamu pada seseorang didalam
hati melebihi cintamu kepada Alloh.
Mungkin kamu mengabaikan Bapak, namun jangan
kamu sekali2 mengabaikan Allah.
Maafkan Bapak atas segalanya. Maafkan Bapak
atas curhat Bapak ini. Jagalah solat. Jagalah hati.
Jagalah iman. ”
Pemuda itu meneteskan air mata, terisak. Dalam
hati terasa perih tidak terkira...................
Bagaimana tidak ?
Sebab tulisan ayahandanya itu dibaca setelah 3
bulan beliau pergi untuk selama-lamanya.

No comments:

Post a Comment