Merpati adalah burung yang
tidak pernah mendua hati. Coba perhatikan, apakah
ada merpati yang suka berganti pasangan?
Jawabannya adalah “tidak”! Pasangannya cukup 1
seumur hidupnya. - Merpati adalah burung yang
tahu kemana dia harus pulang. Betapapun merpati
terbang jauh, dia tidak pernah tersesat untuk
pulang. Pernahkah ada merpati yang pulang ke
rumah lain? Jawabannya adalah “tidak”! -Merpati
adalah burung yang romantis. Coba perhatikan
ketika sang jantan bertalu-talu memberikan pujian,
sementara sang betina tertunduk malu. Pernahkah
kita melihat mereka saling mencaci? Jawabannya,
“tidak”! -Burung merpati tahu bagaimana
pentingnya bekerja sama. Coba perhatikan ketika
mereka bekerja sama membuat sarang. Sang
jantan dan betina saling silih berganti membawa
ranting untuk sarang anak-anak mereka. Apabila
sang betina mengerami, sang jantan berjaga di luar
kandang. Dan apabila sang betina kelelahan, sang
jantan gantian mengerami. Pernahkah kita melihat
mereka saling melempar pekerjaannya?
Jawabannya, “tidak”! -Merpati adalah burung yang
tidak mempunyai empedu, ia tidak menyimpan
“kepahitan” sehingga tidak menyimpan dendam.
menu
Thursday, 9 July 2015
Belajar Dari Merpati
Wednesday, 8 July 2015
Karena Allah Mencintai Kita
Pernah berpikir mengapa Allah mewajibkan shalat?
Karena Allah ingin kita beristirahat sejenak dari
sibuknya rutinitas dunia yang tak akan ada
habisnya.
Pernah berpikir mengapa Allah mewajibkan
menutup aurat?
Karena Allah ingin menjaga wanita, memuliakan
kaum hawa dari godaan ‘mata lelaki yang tidak
bertanggungjawab’. Karena lelaki diciptakan dengan
isi otak yang cenderung banyak memikirkan
syahwat. Dan kita tidak akan pernah tau, lelaki
mana yang menjaga pikirannya dan tidak.
Pernah berpikir mengapa zina itu Allah haramkan?
Karena kerugiannya menyangkut masa depan dan
kebahagiaan wanita. Tidak hanya itu, nama baik
keluarga dan kemuliaannya akan memudar.
Pernah berpikir mengapa Allah memerintahkan kita
berpuasa?
Karena dengan puasa, segala racun di tubuh akan
dinetralkan. Karena penyakit-penyakit hati akan
dilunakkan. Dan keberkahan saat sahur dan
berbuka tiada tanding nikmatnya.
Pernah berpikir mengapa Allah haramkan babi
untuk kita makan?
Karena dalam air liur, kotoran, darah bahkan sel
tubuhnya mengandung virus mematikan dan
termasuk jenis hewan yang menyukai kotoran.
Itu beberapa contoh hal sepele dalam hidup,
Kita pikirkan kembali mana yang Allah haramkan
dan halalkan.
Semua itu adalah demi kebaikan hambaNya,
Bukan untuk Allah, bukan untuk malaikat.
Namun untuk kita, hamba yang paling dicintaiNya.
Hingga Allah memberikan batas mana yang halal
dan mana yang haram.
Hanya karena tak ingin kita merugi,
Hanya karena tak ingin raga dan jiwa kita hancur
begitu saja,
Hanya karena tak ingin kita merasakan panasnya
api neraka.
Betapa Allah mencintai kita,
Dan kita?
Silahkan tanyakan pada hatinya masing-masing
Kekasih ku
seraut wajah muncul dari rembulan..
menyapa mengapa tak datang..
di saat rindu terus menggerus hati..
bukan tak sayang atau tak kasih..
malam masih panjang.......
biar sampai ke pucuk hati.. rindu ini .........
“Dimalam yang gelap kau bersinar seperti bintang,
kekasih gelapku. Melalui kekuatan sinar matahari,
kau memancarkan cahaya yang berkilau. Sebelum
terpengaruh cahaya itu, aku berlari karena malu.
Aku terpesona dengan keanggunanmu dan ada
keselamatan saya, kekasihku”
“Hatiku berdebar seperti sayap kupu kupu .Biarkan
kupu kupu ini bersandar didadamu. Aku percayakan
kupu kupu ini kepadamu, kasihku” Aku
mempercayakan hatiku padamu, Kasih…
tidurlah sayangku dalam pangkuan malam
lelapkan badanmu dalam dekap kasih
pejamkan mata dalam kenangan
hadirlah hati dalam kedamaian
Seorang suami
Sang Miliader, Merawat Sendiri Istri Selama 25 Tahun
Eko Pratomo Suyatno, siapa yang tidak kenal lelaki bersahaja ini? Namanya sering muncul di koran, televisi, di buku-buku investasi dan keuangan. Dialah salah seorang tokoh di balik kemajuan industri reksadana di Indonesia sekarang ini, juga seorang pemimpin dari sebuah perusahaan investasi reksadana besar di negeri ini. Ia tergolong miliader.
Dalam posisinya seperti sekarang ini, boleh jadi kita beranggapan, pria ini pasti super sibuk dengan segudang jadwal padat. Tulisan ini, bukan hendak menyoroti kesuksesan beliau sebagai eksekutif. Tetapi, kesehariannya yang luar biasa.
Usianya sudah tidak terbilang muda lagi, 60 tahun. Orang bilang sudah senja, bahkan sudah mendekati malam. Tapi Pak Suyatno masih bersemangat merawat istrinya yang sedang sakit. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Dikaruniai 4 orang anak.
Cobaan menerpa, tatkala istrinya melahirkan anak yang ke empat. Tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Hal itu terjadi selama 2 tahun. Menginjak tahun ke tiga, seluruh tubuhnya menjadi lemah, bahkan terasa tidak bertulang. Lidahnya pun sudah tidak bisa digerakkan lagi.
Setiap hari sebelum berangkat kerja Pak Suyatno sendirian memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi dan mengangkat istrinya ke tempat tidur. Dia gendong istrinya ke depan TV, agar tidak merasa kesepian. Istrinya sudah tidak dapat bicara, selalu hanya terlihat senyum. Untunglah kantor Pak Suyatno tidak terlalu jauh dari kediamannya, sehingga siang hari dapat pulang untuk menyuapi istrinya untuk makan siang.
Sorenya adalah jadwal memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa saja yang dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa menanggapi lewat tatapan mata, namun bagi Pak Suyatno sudah cukup menyenangkan. Bahkan terkadang diselingi dengan menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun.
Dengan penuh kesabaran dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke 4 buah hati mereka. Sekarang anak- anak mereka sudah dewasa, tinggal si bungsu yang masih kuliah. Pada suatu hari…saat seluruh anaknya berkumpul di rumah menjenguk ibunya – karena setelah anak-anak mereka menikah dan tinggal bersama keluarga masing-masing – Pak Suyatno memutuskan dirinyalah yang merawat ibu mereka karena yang dia inginkan hanya satu: semua anaknya dapat berhasil.
Dengan kalimat yang cukup hati-hati, si anak sulung berkata:
“Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak. Bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu,” kata si sulung dengan air mata berlinang.
“Sudah ke empat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibu pun akan mengijinkannya. Kapan bapak menikmati masa tua bapak? Dengan berkorban seperti ini, kami tidak tega melihat bapak, kami berjanji akan merawat ibu sebaik-baiknya secara bergantian,” tambah si melanjutkan permohonannya.
”Anak-anakku… Jika perkawinan dan hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah lagi. Tetapi ketahuilah, dengan adanya ibu kalian di sampingku, itu sudah lebih dari cukup. Dia telah melahirkan kalian." Sejenak kerongkongannya tersekat.
"Kalian yang selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta, tidak satu pun dapat dihargai dengan apa pun. Coba kalian tanya ibumu, apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini? Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya seperti sekarang? Kalian menginginkan bapak yang masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yang masih sakit?” Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga anak-anaknya.
Meledaklah tangis anak-anak Pak Suyatno. Mereka juga menyaksikan butiran-butiran kecil jatuh di pelupuk mata Ibu Suyatno, yang dengan pilu menatap mata suami yang sangat dicintainya. Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta di Jakarta untuk menjadi narasumber. Host mengajukan pertanyaan kepada Pak Suyatno, kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat istrinya yang sudah tidak bisa apa-apa? Di saat itulah meledak tangis Pak Suyatno, bersama tamu yang hadir di studio yang kebanyakan kaum perempuan pun tidak sanggup menahan haru.
Pak Suyatno bercerita: “Jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinan tetapi tidak mau memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian, semua itu adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, yang sewaktu sehat dia dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya, bukan dengan mata. Dia memberi saya empat anak yang lucu-lucu. Sekarang saat dia sakit karena berkorban untuk cinta kami bersama, itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintai dia apa adanya. Jika dia sehat pun, saya belum tentu mau mencari penggantinya, apalagi dia sakit,” katanya sembari berurai air mata.
Setiap malam saya bersujud dan menangis. Saya hanya dapat bercerita kepada Allah di atas saja. Saya yakin hanya kepada Allah saya percaya untuk menyimpan dan mendengar rahasia saya. Cinta saya kepada istri saya, sepenuhnya saya serahkan kepada Allah.